Indonesia Butuh Perbankan Syariah Untuk Meningkatkan Keuangan Inklusif

Ilustrasi-Foto: Republika
Industri perbankan dan pelaku jasa keuangan syariah lainnya harus berperan meningkatkan keuangan inklusif (financial inclusion) masyarakat Indonesia, mengingat tingkat akses mereka ke produk jasa keuangan masih rendah, kata pejabat Otoritas Jasa Keuangan.

Deputi Direktur Departemen Perbankan Syariah Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nazirwan di Jakarta, Rabu, mengatakan, dengan memperhitungkan penetrasi perbankan konvensional, tingkat literasi masyarakat ke perbankan hanya 37 persen.

Padahal, Indonesia memiliki keuntungan demografis, yakni jumlah penduduknya terbesar di kawasan, ditambah daya dorong perekonomian dengan jumlah masyarakat kelompok kelas menengah yang terbesar pula.

"Hal tersebut seharusnya bisa men-'drive' keuangan syariah. Produk keuangan syariah di sini punya peluang," ujar Nazirwan.

OJK mencatat kawasan timur Indonesia merupakan salah satu wilayah dengan masyarakat yang memiliki tingkat keuangan inklusif rendah. Hal tersebut dapat disebabkan dari penyedia jasa yang masih sedikit, maupun permintaan masyarakat itu sendiri.

Beberapa faktor lainnya yang menyebabkan tingkat keuangan inklusif yang masih rendah adalah biaya yang dianggap mahal, kekurangan edukasi, dan ketidakcocokan produk serta distribusi.

Masalah tersebut berusaha diselesaikan OJK, dengan mengeluarakan program Bank Tanpa Kantor (Branchless Banking).

Menurut Nazirwan, pelaku jasa keuangan syariah juga perlu merambah peluang mengisi pembiayaan di proyek-proyek strategis, seperti pembangunan infrastruktur, yang membutuhkan total pembiayaan pada tahun ini sekitar Rp1926 triliun.

"APBN hanya mampu 20 persen, sisanya diharapkan dari perbankan, dan juga termasuk yang syariah, tidak hanya konvensional," ujar Nazirwan.

OJK, ujar dia, menargetkan pertumbuhan aset perbankan syariah hingga akhir 2014 dapat mencapai 17 persen sehingga mendorong nilai total aset sebesar Rp283 triliun.

Badan-badan keuangan global yang mewadahi keuangan syariah pun, kata dia, memperkirakan keuangan syariah Indonesia dapat meningkat pesat dalam beberapa tahun ke depan, dan bahkan menjadi "motor" keuangan syariah dunia.

"Keuangan syariah di Indonesia dinilai memiliki dinamika yang cepat, dan diperkirakan menjadi pendorong ekonomi global," ujar dia.

Namun, dia mengakui, pertumbuhan perbankan syariah sedang melambat hingga kuartal III-2014. Pertumbuhannya hanya 13 persen, dengan total aset Rp257 triliun. Jumlah tersebut jauh dari rata-rata pertumbuhan syariah dalam lima tahun terakhir yang mencapai 35 persen pada periode yang sama.

Kondisi ekonomi makro yang kerap terganggu sentimen domestik dan juga global, dinilai Nazirwan menjadi salah satu penyebabnya. (fs)

http://www.lesprivatkasiva.com/

0 Response to "Indonesia Butuh Perbankan Syariah Untuk Meningkatkan Keuangan Inklusif"

Post a Comment